Diseksi aorta dapat menyebabkan kematian mendadak. Biasanya keluhan utamanya juga nyeri dada, sehingga sering dikira serangan jantung. Padahal terapinya sangat berbeda. Pada penyakit ini terjadi robekan pada lapisan terdalam dinding aorta, sedangkan serangan jantung akibat sumbatan pada pembuluh darah koroner.
Salah satu penyebab utama diseksi aorta adalah hipertensi. Darah bertekanan tinggi akan menyisip masuk di antara lapisan dinding aorta, kemudian membelah lapisan aorta. Jika dinding aorta tersebut pecah akan terjadi perdarahan hebat di dalam rongga dada, yang berakibat fatal.
Aorta adalah pembuluh darah besar yang pertama kali menerima darah yang dipompa jantung untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Untuk lebih memahami mengenai anatomi aorta, silakan baca artikel mengenai Aneurisma Aorta – fakta yang jarang diketahui.
Dinding aorta memiliki 3 lapisan, intima di bagian paling dalam, media di tengah yang tersusun atas sel otot polos, dan adventitia di bagian luarnya. Lapisan inilah yang terbelah oleh darah yang menyisip diantara lapisan dinding aorta melalui robekan di lapisan intima, sehingga darah bertekanan tinggi hanya dibatasi oleh lapisan adventitia yang sangat tipis dan mudah pecah.
Penyakit ini disebabkan oleh hipertensi (tekanan darah tinggi), kelemahan pada jaringan ikat yang mempengaruhi kekuatan dinding aorta (misalnya pada Marfan Syndrome dan Ehlers-Danlos Syndrome), bicuspid aortic valve (daun katup aorta hanya ada dua, yang pada orang normal ada tiga), dan kadang amat jarang sekali terjadi pada benturan yang sangat keras yang mengenai dada seperti pada kecelakaan lalu lintas.
Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui secara pasti. Seperti fenomena gunung es, angka kejadian yang terdeteksi lebih sedikit dari angka kejadian sesungguhnya karena sering kali kematian mendadak didiagnosis sebagai kematian akibat serangan jantung. Padahal bisa saja karena pecahnya aorta akibat penyakit ini. Penelitian menunjukkan bahwa Angka kejadian di Minnesota, Amerika Serikat, sebanyak 4,4 dari 100.000 orang per-tahun.
Perluasan Diseksi Aorta
Darah yang menyisip dan memisahkan lapisan dinding aorta bisa membelah dinding aorta sampai ke cabang pembuluh darah yang menuju ke otak, lengan, ginjal, usus, sampai ke tungkai atau kaki. Jika robekannya membalik ke arah pembuluh darah koroner, bisa terjadi gangguan aliran darah koroner.
Jika ini terjadi, maka organ-organ tadi bisa mengalami kekurangan pasokan darah dan timbul-gejala-gejala akibat kekurangan pasokan nutrisi dan oksigen. Jika yang terganggu alirannya adalah pembuluh darah koroner, bisa terjadi serangan jantung. Bila pembuluh darah otak, bisa tejadi stroke. Kalau pembuluh darah ginjal, bisa terjadi gagal ginjal. Begitu juga untuk organ-organ lainnya.
Gejala Diseksi Aorta
Dengan deskripsi penyakit seperti di atas dan perluasan yang mungkin terjadi, maka penderita penyakit ini dapat tampil dengan gejala-gejala berikut:
- Nyeri dada hebat yang muncul mendadak, seperti dirobek atau disayat. Nyeri bisa dijalarkan sampai ke leher atau punggung.
- Nyeri perut hebat yang muncul mendadak.
- Penurunan kesadaran.
- Sesak napas.
- Gangguan bicara, kelemahan atau lumpuh pada lengan atau tungkai sisi tertentu, seperti pada penderita stroke.
- Nyeri tungkai, atau lengan dengan perabaan terasa dingin.
- Denyut nadi di salah satu lengan atau tungkai teraba lemah atau sulit diraba.
Tekanan darah pada pasien diseksi aorta biasanya sangat tinggi ( > 170 mmHg), namun jika aorta sudah pecah, bisa terjadi syok sehingga tekanan darah terukur sangat rendah saat diperiksa di Instalasi Gawat Darurat.
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Tekanan darah harus diukur pada keempat anggota gerak (kedua lengan dan kedua tungkai). Perbedaan tekanan darah > 20 mmHg menjadi salah satu tanda untuk menegakkan diagnosis diseksi aorta.
Foto rontgen dada bisa mendeteksi adanya pelebaran mediastinum (ruang diantara paru-paru).
Echokardiografi dan USG abdomen (perut) juga bisa dilakukan untuk mendeteksi adanya intimal flap (lapisan dinding aorta yang memisah).
CT Scan aorta adalah pemeriksaan penunjang yang paling akurat untuk mendiagnosis diseksi aorta dan perluasannya.
Klasifikasi
Diseksi aorta diklasifikasikan berdasarkan segmen aorta yang mengalami robekan.
- Tipe A. Diseksi aorta yang robekan dan pemisahan dinding aorta melibatkan aorta ascendens, aorta yang mengarah ke atas, yang menerima darah langsung dari jantung dengan tekanan yang amat tinggi.
- Tipe B. Robekan dan pemisahan dinding aorta terjadi hanya pada aorta descendens, aorta yang mengarah ke bawah menuju perut dan kedua tungkai.
Terapi
Prinsip terapi definitif untuk penyakit diseksi aorta adalah menutup robekan pada dinding dalam aorta dan mengalirkan kembali darah menuju ke true lumen. Jika sudah tidak ada aliran darah di false lumen, maka darah yang sudah ada di situ akan mengalami pembekuan dan risiko untuk pecahnya aorta sudah teratasi. Tentu saja tekanan darah tinggi harus segera diturunkan.
Tindakan operasi untuk perbaikan diseksi aorta dapat menggunakan teknik seperti gambar ilustrasi di atas. Dinding pembuluh darah yang mengalami robekan dibuang, lalu dinding yang tidak ada robekannya (entry tear) dijepit dengan dua lembar teflon felt kemudian dijahit.
Bagian aorta yang dibuang diganti dengan pembuluh darah buatan seperti gambar ilustrasi berikut ini.
Diseksi aorta tipe A memerlukan tindakan operasi segera untuk mencegah pecahnya aorta dan mencegah komplikasi akibat perluasan pembelahan lapisan dinding aorta.
Pencegahan
Pepatah menyebutkan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Diseksi aorta dapat dicegah dengan melakukan hal-hal berikut ini:
- Mengontrol tekanan darah.
- Berhenti merokok.
- Menjaga berat badan ideal. Hal ini dapat dilakukan dengan diet tinggi serat, rendah kolesterol, kontrol kadar gula darah, dan olah raga teratur.
- Jika Anda memiliki penyakit gangguan jaringan ikat atau bicuspid aortic valve, konsultasikan dan kontrol teratur ke dokter untuk mendapatkan saran dan terapi untuk mencegah terjadinya penyakit ini.
Penutup
Diseksi aorta dapat menyebabkan kematian mendadak. Penyebab terseringnya adalah hipertensi. Pencegahan sebelum pecahnya pembuluh darah aorta yang mengalami diseksi merupakan upaya terbaik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun deteksi yang cepat, akurat, dan penanganan yang tepat jika sudah terjadi dapat menyelamatkan nyawa pasien.